Jumat, 11 November 2016

strategi pembelajaran fisika bebasis PBL




MAKALAH STRATEGI PEMBELAJARAN FISIKA
 tentang: 

“ PROBLEM BASED LEARNING ”

 Oleh: Kelompok 1 :
 Anisa Sri Wulan 
Rahma Asriani 14107028 
Resti 14 107 030 

Dosen Pembimbing:
 Novia Lizelwati, M.Pfis. 

FALKUTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN JURUSAN PENDIDIKAN FISIKA
 INSTITUT AGAMA ISLAM NEGRI (IAIN)
 BATUSANGKAR 
2016  



KATA PENGANTAR 

        Puji syukur kita ucapkan kepada Allah SWT yang telah senantiasa mencurahkan rahmatnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah tentang “Strategi pembelajaran berbasis masalah (problem base learning)” ini tepat pada waktunya. Shalawat beserta salam marilah kita mohon kepada Nabi besar Muhammad SAW yang telah membawa umatnya dari zaman kebodohan sampai zaman yang berilmu pengetahuan yang kita rasakan saat ini. 
        Dalam penulisan makalah ini, penulis telah berusaha semaksimal mungkin, penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari kata sempurna, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca untuk selanjutnya penulis bisa lebih baik lagi. Terima kasih penulis ucapkan kepada pihak-pihak yang telah membantu dan menyumbangkan pikirannya dalam pembuatan makalah ini.Akhir kata semoga makalah ini bermanfaat bagi siapa yang membacanya. 

                                                                                                                      Batusangkar, Oktober 2016 


                                                                                                                                             Penulis  



DAFTAR ISI 
KATA PENGANTAR.................................................
DAFTAR ISI...............................................................
BAB 1 PENDAHULUAN...........................................
    A. Latar Belakang .........................................
    B. Rumusan Masalah........................................
     C. Tujuan Penulisan...................................
BAB II PEMBAHASAN............................
    A. Defenisi Problem Base Learning ....................................
    B. Komponen-komponen Strategi Problem Based Learning................
    C. Karakteristik Strategi Problem Base Learning...................................
    D. Langkah-Langkah Strategi Problem Base Learning (Sintaks)...................
    E. Kelebihan Dan Kelemahan Strategi Problem Base Learning......................
    F. Konsep Fisika Yang Cocok Untuk Strategi Problem Base Learning.............
   G. Contoh Skenario Penerapan Strategi Problem Base Learning 10 ...................
BAB IV PENUTUP ............................................................................................
   A. Kesimpulan .................................................................................
    B. Saran ....................................................................................
DAFTAR PUSTAKA 


BAB 1 PENDAHULUAN 

A. Latar Belakang 
        Pembelajaran merupakan proses penambahan informasi dan kemampuan baru yang dimediasi oleh seseorang atau lebih pengajar/pendidik. Dalam praktiknya, pengajar/pendidik sering menemui kesulitan dalam menyampaikan materi pembelajaran kepada peserta didik. Hal seperti dapat dikarenakan kurangnya kesiapan guru ketika masuk kelas, tidak tepatnya metode pembelajaran yang digunakan, dan faktor lainnya. Seorang guru harus mampu memanajemen pembelajaran yang akan dia sampaikan. Baik dalam hal penguasaan materi ataupun dalam penggunaan metode, strategi, taktik maupun triknya dalam mengajar. Berdasarkan latar belakang tersebut penulis akan menjelaskan tentang konsep Model Problem Based Learning (PBL) sebagai salah satu dari sekian banyak model pembelajaran yang digunakan. 

B. Rumusan Masalah 
    1. Apa defenisi Model Problem Based Learning (PBL)? 
    2. Apa komponen-komponen dari Problem Based Learning (PBL) 
    3. Apa Karakteristik dari Model Problem Based Learning (PBL). 
    4. Apa saja Sintaks Model Problem Based Learning (PBL)? 
    5. Apa Kelebihan Dan Kelemahan Strategi Problem Base Learning ? 
    6. Apa Konsep Fisika Yang Cocok Untuk Strategi Problem Base Learning ? 
    7. Apa Contoh Skenario Penerapan Strategi Problem Base Learning? 

C. Tujuan Penulisan Makalah ini bertujuan untuk mengetahui: 
    1. Defenisi Model Problem Based Learning (PBL) 
    2. Komponen-komponen Problem Based Learning (PBL) 
    3. Karakteristik Model Problem Based Learning (PBL). 
    4. Langkah-Langkah Strategi Problem Base Learning (Sintaks) 
    5. Kelebihan Dan Kelemahan Strategi Problem Base Learning 
    6. Konsep Fisika Yang Cocok Untuk Strategi Problem Base Learning 
    7. Contoh Skenario Penerapan Strategi Problem Base Learning 


BAB II PEMBAHASAN 

A. Defenisi Problem Base Learning 
       Pengertian Model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) atau Problem Based Learning (PBL) menurut beberapa ahli adalah sebagai berikut: 
1. Tan dalam Rusman menyatakan 
     PBL merupakan penggunaan berbagai macam kecerdasan yang diperlukan untuk melakukan konfrontasi terhadap tantangan dunia nyata, kemampuan untuk menghadapi segala sesuatu yang baru dan kompleksitas yang ada. 
2. Rusman (2011), 
    kurikulum PBL memfasilitasi keberhasilan memecahkan masalah, komunikasi, kerja kelompok dan keterampilan interpersonal dengan lebih baik dibanding pendekatan yang lain. 
3. Wina sanjaya (2008),  
   PBL diartikan sebagai rangkaian aktivitas pembelajaran yang menekankan kepada proses penyelesaian masalah yang dihadapi secara ilmiah. 

      Jadi, Problem Based Learning (PBL) atau Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL) merupakan model pembelajaran yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengintegrasikan pengetahuan baru dan melatih keterampilan menyelesaikan masalah adalah tujuan utama proses pembelajaran. Untuk mengimplementasikan SPBM, guru perlu memilih bahan pelajaran yang memiliki permasalahan yang dapat dipecahkan. Permasalahan tersebut bisa diambil dari buku teks atau dari sumber-sumber lain misalnya dari peristiwa yang terjadi di lingkungan sekitar, peristiwa dalam keluarga atau dari peristiwa kemasyarakatan. 

 B. Komponen-komponen Strategi Problem Based Learning 
  Komponen-komponen pembelajaran berbasis masalah dikemukakan oleh Arends, diantaranya ialah : 1. Permasalahan autentik. 
    Mengorganisasikan masalah nyata yang penting secara sosial dan bermanfaat bagi peserta didik. Permasalahan yang dihadapi peserta didik dalam dunia nyata yang tidak dapat dijawab dengan jawaban yang sederhana. 
2. Fokus interdisipliner 
    Agar peserta didik belajar berfikir struktural dan belajar menggunakan berbagai prespektif keilmuan. 
3. Pengamatan autentik 
    Untuk menemukan solusi yang nyata. Peserta didik diwajibkan untuk menganalisis dan menetapkan masalah , membuat hipotesa dan membuat prediksi, menyimpulkan dan mengenalisis informasi, melaksanakan eksperimen, membuat inferensi, dan menarik kesimpulan. 4. Produk Peserta didik dituntut untuk membuat produk hasil pengamatan. Produk bisa berupa kertas yang dideskripsikan dan didemonstrasikan kepada orang lain. 
5. Kaloborasi 
    Dapat mendorong penyalidikan dan dialog bersama untuk mengembangkan ketrampilan berfikir dan ketrmpilan sosial. 

 C. Karakteristik Strategi Problem Base Learning 

   Rusman menyebutkan bahwa karakteristik PBL adalah sebagai berikut: 
1. Permasalahan menjadi starting point dalam belajar. 
2. Permasalahan yang diangkat adalah permasalahan yang ada didunia nyata yang tidak terstruktur. 
3. Permasalahan membutuhkan perspektif ganda (multiple perspective). 
4. Permasalahn menantang pengetahuan yang dimiliki siswa, sikap dan kompetensi yang kemudian membutuhkan identifikasi kebutuhan belajar dan bidang baru dalam belajar. 
5. Belajar pengarahan diri menjadi hal yang utama. 
6. Pemanfaatan sumber pengetahuan yang beragam penggunaannya dan evaluasi sumber informasi merupakan proses yang esensial. 
7. Belajar adalah kolaboratif, komunikatif dan kooperatif. 
8. Pengembangan keterampilan inkuiri dan pemecahan masalah sama pentingnya dengan penguasaan isi pengetahuan untuk mencari solusi dari sebuah permasalahan. 
9. Keterbukaan proses dalam PBL meliputi sintesis dan integrasi dari sebuah proses belajar. 
10. PBL melibatkan evaluasi dan review pengalaman siswa dan proses belajar. 

Karakteristik PBM dari Oon Seng Tan: 
1. Pengajuan pertanyaan atau masalah (memaham masalah) 
2. Berfokus pada keterkaitan antardisiplin 
3. Penyelidikan autentik 
4. Menghasilkan produk atau karya yang kemudian dipamerkan 
5. Kerja sama Tujuan penggunaan metode mengajar ini adalah untuk memberikan kemampuan dasar dan teknik kepada siswa agar mampu memecahkan masalah, ketimbang hanya dicekoki dengan sejumlah data dan informasi yang harus dihafalkan. 
    Dengan metode mengajar ini, pendidik memberikan bekal kepada siswa tentang kemanpuan untuk memecahkan masalah dengan menggunakan kaidah ilmiah tentang teknik dan langkah-langkah berfikir kritis dan rasional. 


D. Langkah-Langkah Strategi Problem Base Learning (Sintaks) 
      Tahapan-tahapan SPBM adalah menurut Jhon Dewey dalam Wina Sanjaya, yakni: 
a. Merumuskan masalah, yaitu langkah siswa menentukan masalah yang akan dipecahkan. 
b. Menganalisi masalah, yaitu langkah siswa meninjau masalah secara kritis dari berbagai sudut pandang. 
c. Merumuskan hipotesis, yaitu langkah siswa merumuskan berbagai kemungkinan pemecahan sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya. 
d. Mengumpulkan data, yaitu langkah siswa mencari dan menggambarkan informasi yang diperlukan untuk pemecahan masalah. 
e. Pengujian hipotesis, yaitu langkah siswa mengambil atau merumuskan kesimpulan sesuai dengan penerimaan dan penolakan hipotesis yang diajukan. 
f. Merumuskan rekomendasi pemecahan masalah, yaitu langkah siswa menggambarkan rekomendasi yang dapat dilakukan sesuai dengan hasil pengujian hipotesis dan rumusan kesimpulan. 
           Sintaks suatu pembelajaran berisi langkah-langkah praktis yang harus dilakukan oleh guru dan siswa dalam suatu kegiatan. Pada pengajaran berdasarkan masalah terdiri dari lima langkah utama yang dimulai dengan guru memperkenalkan siswa dengan suatu situasi masalah dan diakhiri dengan penyajian dan analisis hasil kerja siswa.

Kelima langkah tersebut dijelaskan berdasarkan langkah-langkah pada tabel berikut : Sintaks Pengajaran Berdasarkan Masalah Tahap Tingkah Laku Guru 
    Tahap-1 Orientasi siswa pada masalah 
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, mengajukan fenomena atau demonstrasi atau cerita untuk memunculkan masalah, memotivasi siswa untuk terlibat dalam pemecahan masalah yang dipilih 
     Tahap-2 Mengorganisasi siswa untuk belajar 
Guru membantu siswa untuk mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut 
    Tahap-3 Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok 
Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah 
    Tahap-4 Mengembangkan dan menyajikan hasil karya 
Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, dan model serta membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya 
    Tahap-5 Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah 
Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan. 

Menurut Ibrahim dalam (Trianto, 2009: 97), di dalam kelas PBL, peran guru berbeda dengan kelas tradisional. Peran guru di dalam kelas PBL antara lain sebagai berikut : 
1. Mengajukan masalah atau mengorientasikan siswa kepada masalah autentik, yaitu masalah kehidupan nyata sehari-hari 
2. Memfasilitasi/ membimbing penyelidikan misalnya melakukan pengamatan atau melakukan eksperimen/percobaan 
3. Memfasilitasi dialog siswa, dan 
4. Mendukung belajar siswa. 

E. Kelebihan Dan Kelemahan Strategi Problem Base Learning 
          Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) memiliki beberapa keunggulan dan kelemahan sebagai berikut : (Ahsan, Arfiyadi, 2012) Kelebihan :   
   a. Merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih memahami isi pelajaran. 
   b. Dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa. 
    c. Dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa. 
   d. Dapat membantu siswa bagaimana mentranfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata. 
   e. Dapat membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan. 
   f. Pemecahan masalah dianggap lebih menyenangkan dan disukai siswa. 
  g. Dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir lebih kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan pengetahuan. 
   h. Dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata. 
    i. Dapat mengembangkan minat siswa untuk secara terus-menerus belajar sekalipun belajar pada pendidikan formal telah berakhir. 
    j. Dapat membentuk siswa untuk memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi, yang dibarengi dengan kemampuan inovatif dan sikap kreatif akan tumbuh dan berkembang. 
    k. Dengan model pembelajaran berbasis masalah, kemandirian siswa dalam belajar akan mudah terbentuk, yang pada akhirnya akan menjadi kebiasaan dalam menyelesaikan berbagai permasalahan yang ditemuinya dalam aktivitas kehidupan nyata sehari-hari ditengah-tengah masyarakat. 

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran berbasis masalah harus dimulai dengan kesadaran adanya masalah yang harus dipecahkan. Pada tahapan ini guru membimbing peserta didik pada kesadaran adanya kesenjangan atau gap yang dirasakan oleh manusia atau lingkungan sosial. Kemampuan yang harus dicapai oleh peserta didik, pada tahapan ini adalah peserta didik dapat menentukan atau menangkap kesenjangan yang terjadi dari berbagai fenomena yang ada. Disamping keunggulannya, model ini juga mempunyai kelemahan : 
    a. Manakala siswa tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa enggan untuk mencoba.
   b. Keberhasilan model pembelajaran PBL ini membutuhkan cukup waktu untuk persiapan dan pelaksanaannya. 
  c. Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajari 

F. Konsep Fisika Yang Cocok Untuk Strategi Problem Base Learning 
Tidak semua konsep yang ada di pembahasan fisika cocok untuk strategi Problem Based Learning (PBL), karena apabila masalah tersebut bisa diselesaikan secara langsung kita tidak perlu mengunakan strategi PBL. Contoh konsep fisika yang penyelesaiannya menggunakan PBL yaitu konsep optik geometri. Karena didalamnya berhubungan erat dengan kehidupan sehari-hari para peserta didik. Selama ini peserta didik selalu kesulitan terutama dalam hal membedakan sifat bayangan maya dan nyata yang terbentuk khususnya pada cermin dan lensa. Untuk mengatasi hal tersebut biasanya mereka menghafalkan setiap pembentukan bayangan, padahal pembelajaran yang diinginkan tidak seperti itu. Peserta didik diharapkan mampu memahami sifat bayangan maya dan nyata pada cermin dan lensa. Untuk mencapai tujuan tersebut, akan lebih baik jika peserta didik melihat langsung proses pembentukan bayangan tersebut, melalui percobaan laboratorium sehingga mereka dapat membedakan kedua sifat bayangan tersebut tanpa harus menghafal tetapi peserta didik harus memahami dengan benar sesuai dengan apa yang mereka lihat ketika melakukan percobaan. Artinya pembelajaran fisika pada konsep optik geometri membutuhkan pemahaman tingkat tinggi, bukan hanya bersifat matematis. Konsep optik geometri merupakan konsep yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Salah satu model yang mendorong peserta didik untuk memiliki kepekaan terhadap lingkungan dan berusaha untuk memecahkan masalahnya adalah model problem based learning. Model problem based learning dapat melatih peserta didik untuk mengorganisasikan pengetahuan dan kemampuan peserta didik, karena menggunakan pendekatan pemecahan masalah. Pemecahan masalah akan mengembangkan motivasi, ketekunan, dan kepercayaan diri peserta didik. Model pembelajaran ini menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan, memfasilitasi penyelidikan dan mendiskusikannya untuk menyelesaikan masalah. 

 G. Contoh Skenario Penerapan Strategi Problem Base Learning 

Tahap 1 dan Tahap-2 Orientasi siswa pada masalah dan Mengorganisasi siswa untuk belajar 
Saat ini hampir setiap orang memiliki peralatan yang satu ini. Dia begitu kecil yang bisa dianggap nyaman diletakan di dalam saku, namun diangggap memiliki fungsi yang besar terutama untuk berkomunikasi. Benda itu ialah sebuah ponsel. Saat ini ponsel tidak hanya untuk menelpon saja tetapi juga untuk fungsi lain seperti mengirim dan menerima pesan , mendengarkan musik atau mengambil foto. Bagaimana perangkat ponsel dapat terhubung dengan perangkat ponsel yang lain padahal mereka saling berjauhan? Konsep yang bisa menjelaskan fenomena ini ialah konsep gelombang elektromagnetik. 


Tahap-3 Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok 
Untuk menjawab pertanyaan tersebut mari kita melakukan diskusi kelompok. Dalam diskusi ini kita akan mengumpulkan berbagai infomasi tentang konsep gelombang elektromagnetik. Mulai dari pengertian Gelombang Elektromagnetik, karakteristik Gelombang Elektomagnetik, macam-macam Gelombang Elektromagnetik, serta frekuensi Gelombang Elektromagnetik. 


Tahap-4 Mengembangkan dan menyajikan hasil karya 
Gelombang elektromagnetik merupakan perpaduan antara gelombang yang dihasilkan oleh sinergis dua energi, yaitu energi listrik dan energi magnet, yang saling tegak lurus. Gelombang elektromagnetiknik ini dapat merambat tanpa melalui medium karena dapat menembus ruang hampa dan memiliki arah getar yang tegak lurus dengan arah rambatannya. Salah satu bukti bahwa gelombang elektromagnetik dapat menembus ruang hampa adalah terjadinya komunikasi antara orang di bumi dan astronot yang ada di bulan. Gelombang elektromagnetik bergerak merambat. v=λ.f dan f=1/T Dari persamaan di atas dapat diketahui bahwa frekuensi gelombang berbanding terbalik dengan panjang gelombangnya. Artinya, jika frekuensi suatu gelombang besar, maka panjang gelombangnya semakin kecil dan begitupun sebaliknya. Gelombang elektromagnetik yang memiliki frekuensi paling besar adalah sinar gamma, selanjutnya berturut-turut adalah sinar X, ultra ungu (violet), cahaya tampak, infra merah, gelombang mikro (radar), gelombang televisi, dan gelombang radio Penemuan gelombang elektromagnetik merupakan salah satu pemicu perkembangan ilmu pengetahuan yang berdampak pula pada perkembangan teknologi canggih (Iptek), terutama teknologi komunikasi. Salah satu teknologi komunikasi terkini yang memanfaatkan gelombang elektromagnetik adalah telepon selular atau handphone. Handphone menggunakan gelombang elektromagnetik mikro, yaitu radar, untuk menghubungkan antara handphone yang satu dengan yang lainnya. Gelombang radar (Radio Detection and Ranging) mempunyai frekuensi 108-1012 Herzt. Dengan menggunkan rumus temuan Planck, berikut. E=h.v dimana E adalah energi yang dipancarkan gelombang elektromagnetik dengan satuan Joule, h adalah tetapan Planck yang besarnya 6,62 x 10-34 Js, dan v adalah cepat rambat gelombang (v = λ.f) dengan satuan m/s. Sehingga diperoleh bahwa energi yang dipancarkan gelombang radar berkisar pada rentang 2,98 x 10-25 Joule sampai 1,25 x 10-24 Joule. Jika dibandingkan dengan energi yang dipancarkan sinar gamma dan sinar X, energi gelombang radar secara kuantitatif relatif masih kecil.Selain jumlah atau frekuensi yang besar, efek radiasi gelombang elektromagnetik juga dipengaruhi oleh jarak dan waktu. Intensitas energi yang diradiasikan oleh gelombang diperoleh dengan menggunakan persamaan berikut. I=P/A dimana I adalah besar intensitas radiasi dengan satuan W/m2, P adalah besar daya yang diterima dengan satuan W, dan A adalah luas permukaan yang ditembus oleh suatu radiasi dengan satuan m2. Apabila radiasi gelombang tersebut bersifat omnidirectional, besar intensitas radiasi yang diterima berbanding terbalik dengan kuadrat jarak antara sumber radiasi dan materi. Jadi, semakin dekat jarak antara sumber radiasi dengan suatu materi, maka intensitas radiasi yang diterima semakin besar, sebaliknya semakin jauh jarak antara sumber radiasi dengan suatu materi, maka intensitas radiasi yang diterima semakin kecil. Sementara itu, waktu atau lama radiasi gelombang terhadap suatu materi yang cukup lama mengakibatkan intensitas energi yang terpancar semakin banyak. 

Tahap-5 Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah 
Setelah melakukan diskusi dan menampilkan hasil diskusi yangg telah di buat, kita akan melakukan evaluasi bersama. Jadi bagaimana perangkat ponsel dapat terhubung dengan perangkat ponsel yang lain padahal mereka saling berjauhan? Karena ponsel /Handphone menggunakan gelombang elektromagnetik mikro, yaitu radar, untuk menghubungkan antara handphone yang satu dengan yang lainnya. Gelombang radar (Radio Detection and Ranging) mempunyai frekuensi 108-1012 Herzt. Jadi, semakin dekat jarak antara sumber radiasi dengan suatu materi, maka intensitas radiasi yang diterima semakin besar, sebaliknya semakin jauh jarak antara sumber radiasi dengan suatu materi, maka intensitas radiasi yang diterima semakin kecil. Sementara itu, waktu atau lama radiasi gelombang terhadap suatu materi yang cukup lama mengakibatkan intensitas energi yang terpancar semakin banyak.


 BAB IV PENUTUP
 A. Kesimpulan 
1. Problem Based Learning (PBL) atau Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL) merupakan model pembelajaran yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengintegrasikan pengetahuan baru dan melatih keterampilan menyelesaikan masalah adalah tujuan utama proses pembelajaran. 
 2. Karakteristik Model Problem Based Learning (PBL) PBL memiliki sejumlah karakteristik yang membedakannya dengan model pembelajaran lainnya yaitu: 
       a. Pembelajaran bersifat student centered. 
       b. Pembelajaran terjadi pada kelompok-kelompok kecil. 
       c. Guru berperan sebagai fasilitator dan moderator. 
       d. Masalah menjadi fokus dan merupakan sarana untuk mengembangkan keterampilan Problem
            Solving. 
       e. Informasi-informasi baru diperoleh dari belajar mandiri (self directed learning). 
3. Sintaks Model Problem Based Learning (PBL) Secara umum PBL bisa dilakukan dengan langkah-langkah : 
 a. Menyadari Masalah 
 b. Merumuskan Masalah
 c. Merumuskan Hipotesis 
 d. Mengumpulkan Data 
 e. Menguji Hipotesis 
 f. Menentukan Pilihan Penyelasaian 
B. Saran 
Untuk pembaca, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Dan mohon kritikan yang membangun agar penulisan makalah berikutnya lebih baik dan tidak terdapat kesalahan yang sama. 


DAFTAR PUSTAKA
Rusman. 2011. Manajemen kurikulum. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Suyanto, dan Asep Jihad. 2013. Menjadi Guru Profesional. Jakarta: Erlangga.
Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana. 
Trianto. 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progesif. Jakarta: KENCANA Prenanda Media Group. 
Nyoman Suardana. Penerapan strategi pembelajaran berbasis masalah dengan pendekatan kooperatif berbantu modul untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar mahasiswa pada perkuliahan kimia fisika I”, dalam jurnal pendidikan dan pengajaran IKIP Negeri Singaraja: No. 4 TH.XXXIX, Oktober 2006. Pdf. 
Iqbalpgrismg.blogspot.co.id/2012/12/makalah-pbl-problem-based-learning.html.[Diakses Tanggal 23 Oktober 2016 pukul 20.45.WIB]

Minggu, 28 Februari 2016

hakikat kurikulum dan pembelajaran


MAKALAH TELAAH KURIKULUM FISIKA
Tentang:
Hakikat Kurikulum dan Pembelajaran
Oleh
Rahma Asriani         14107028
Rani Anwar              14107029
Santri Ulfa Yanti      14107036

Dosen Pembimbing
Novia lizelwati, M.Pfis.
Artha Nessa Chandra M.Pd

JURUSAN TARBIYAH PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
BATUSANGKAR
2016


KATA PENGANTAR


AssalamualaikumWr.Wb
Segala puji beserta syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT. Yang telah memberi hidayah berfikir sehingga dapat melaksanakan tugas untuk pembuatan makalah dalam upaya  memenuhi tugas mata kuliah Telaah Kurikulum Fisika  yang berjudul Hakikat Kurikulum dan Pembelajaran
Penyusunan makalah ini tentunya tidak luput dari kesalahan-kesalahan yang tidak sengaja. Meskipun memiliki banyak kekurangan penulis beharap makalah ini dapat bermanfaat dan penulis meminta maaf sebelumnya kepada dosen, apabila masih belum mencapai sempurna. Penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang sifatnya membangun.
WassalamualaikumWr.Wb










Batusangkar, 26 Februari 2016


DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR.. ii
DAFTAR ISI. iii
BAB I PENDAHULUAN.. 1
1.      Latar Belakang. 1
2.      Rumusan Masalah. 1
3.      Tujuan. 1
BAB II PEMBAHASAN.. 2
1.      Pengertian kurikulum.. 2
2.      Peran Kurikulum.. 2
3.      Fungsi Kurikulum.. 3
4.      Peran guru dalam pengembangan kurikulum.. 4
BAB III PENUTUP.. 7
1.      Kesimpulan. 7
DAFTAR PUSTAKA.. 8



 


BAB I
PENDAHULUAN


1.      Latar Belakang

Kurikulum sering diartikan sebagai wadah seperangkat konsep tentang praktik pendidikan seperangkat konsep tersebut dibuat sebagai acuan dari pelaksanaan praktik pendidikan. Kurikulum berusaha menerjemahkan tujuan pendidikan sekaligus tujuan dari pengembangan manusia suatu bangsa kedalam konsep-konsep yang sistematis. Dengan harapan agar pendidikan bisa dilaksanakan lebih terarah sehingga bisa efektif dan efisien. Jadi sedikit banyaknya kurikulum merupakan gambaran orientasi suatu bangsa.

2.      Rumusan Masalah

1.      Apa pengertian kurikulum ?
2.      Bagaimana peran dan fungsi kurikulum?
3.      Bagaimana peranan guru dalam pengembangan kurikulum?

3.      Tujuan

1.      Untuk mengetahui apa itu kurikulum
2.      Untuk mengetahui bagaimana peran dan fungsi kurikulum
3.      Untuk mengetahui peranan guru dalam pengembangan kurikulum









BAB II
PEMBAHASAN


1.      Pengertian kurikulum

Istilah kurikulum berasal dari bahasa latin, yakni “curriculae”, artinya jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari. Pada waktu itu, pengertian kurikulum ialah jangka waktu pendidikan yang harus ditempuh oleh siswa yang bertujuan untuk memperoleh ijazah.  (Omear Hamalik.2014.hal 16)
Menurut B. Othanel Smith,W.O.Starley dan J.Harian Shores, kurikulum merupakan sejumlah pengelaman potensial yang diatur untuk tujuan mendisiplinkan anak-anak dan remaja agar mereka dapat berpikir dan bertindak sesuai dengan kelompok. Sejalan dengan itu Nana Sudjana memandang kurikulum sebagai sebuah program belajar bagi siswa yang disusun secara sistematik dan diberikan oleh lembaga pendidikan tertentu untuk mencapai tujuan pendidikan.(Suyadi dan Dahlia.2015.hal 2)
Omear Hamalik menjelaskan bahwa kurikulum adalah perencanaan kesempatan belajar untuk membina siswa kearah perubahan prilaku yang diinginkan dan menilai hingga di mana perubahan-perubahan tersebut telah terjadi pada diri siswa yang bersangkutan. (Suyadi dan Dahlia.2015.hal 2)
Dalam undang-undang No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat (19), istilah kurikulum diartikan sebagai seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. (Suyadi dan Dahlia.2015.hal 2)

2.      Peran Kurikulum

Menurut Oemar Hamalik dalam Toto Ruhimat, kurikulum memiliki tiga peran, yaitu peran konservatif, kreatif, serta kritis dan evaluatif.
a.       Peranan koservatif
Kurikulum sebagai sarana mentransmisikan nilai-nilai warisan budaya masa lalu yang dianggap masih relavan dengan masa kini kepada siswa. Dengan demikian, tugas pendidik disini adalah mempengaruhi dan membina prilaku siswa sesuai dengan nilai-nilai sosial yang ada dalam masyarakat. (Suyadi dan Dahlia,2015:5)
b.      Peranan kreatif
Kurikulum melaksanakan kegiatan yang bersifat kreaktif, yaitu menciptakan dan mengembangkan sesuatu yang baru sesuai dengan kebutuhan masyarakat pada masa sekarang dan yang akan datang. (Suyadi dan Dahlia,2015:5)
c.       Peranan kritis dan evaluatif
Kurikulum turut aktif berpartisipasi dalam mengontrol dan memfilter nilai-nilai sosial yang tidak sesuai lagi dengan keadaan dan tuntutan masa kini, kemudian dihilangkan dan diadakan modifikasi dan perbaikan agar sesuai dengan masa sekarang. (Suyadi dan Dahlia,2015:5)

3.      Fungsi Kurikulum

Secara umum fungsi kurikulum adalah sebagai alat untuk membantu peserta didik untuk mengembangkan pribadinya ke arah tujuan pendidikan. Menurut Alexander Inglis, fungsi kurikulum meliputi:
a.       Fungsi penyesuaian
Karena individu hidup dalam lingkungan, sedangkan lingkungan tersebut senantiasa berubah dan dinamis, maka setiap individu harus mampu menyesuaikan diri secara dinamis dan dibalik lingkungan pun harus disesuaikan dengan kondisi perorangan.  
(Astawan.2010.pdf)
b.      Fungsi integrasi
Kurikulum berfungsi mendidik pribadi-pribadi yang terintegrasi. Karena individu itu sendiri merupakan bagian integral dari masyarakat, maka pribadi yang terintegrasi itu akan memberikan sumbangan dalam rangka pembentukan dan pengintegrasian masyarakat. (Astawan.2010.pdf)
c.       Fungsi deferensiasi
Kurikulum perlu memberikan pelayanan terhadap perbedaan-perbedaan perorangan dalam masyarakat. Pada dasarnya deferensiasi akan mendorong orang berpikir kritis dan kreatif, serta akan mendorong kemajuan sosial dalam masyarakat. (Astawan.2010.pdf)


d.      Fungsi persiapan
Kurikulum berfungsi mempersiapkan siswa agar mampu melanjutkan studi lebih lanjut untuk jangkauan yang lebih jauh atau terjun ke masyarakat. (Astawan.2010.pdf)
e.       Fungsi pemilihan
Antara keperbedaan dan pemilihan mempunyai hubungan yang erat. Pengakuan atas perbedaan berarti memberikan kesempatan bagi seseorang untuk memilih apa yang diinginkan dan menarik minatnya. Ini merupakan kebutuhan yang ideal bagi masyarakat demokratis, sehingga kurikulum perlu diprogram secara fleksibel. (Astawan.2010.pdf)
f.       Fungsi diagnostik
Salah satu segi pelayanan pendidikan adalah membantu dan mengarahkan para siswa agar mereka mampu memahami dan menerima dirinya sehingga dapat mengembangkan semua potensi yang dimilikinya. Ini dapat dilakukan bila mereka menyadari semua kelemahan dan kekuatan yang dimiliki melalui eksplorasi dan prognosa.(Astawan.2010.pdf)
Fungsi praksis dari kurikulum meliputi
a.       Fungsi bagi sekolah yang bersangkutan yakni sebagai alat untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan yang diinginkan dan sebagai pedoman dalam mengatur kegiatan pendidikan sehari-hari.
b.      Untuk menjamin adanya pemeliharaan keseimbangan proses pendidikan
c.       Fungsi bagi masyarakat dan pemakai lulusan
(Astawan.2010.pdf)

4.      Peran guru dalam pengembangan kurikulum

Kurikulum, silabus dan rencana pembelajaran atau Satuan Acara Perkuliahan (SAP) yang tersusun dan telah disiapkan sedemikian rupa, tidak akan berarti apa-apa bila belum teraktualisasi menjadi kurikulum aktual. Melalui fungsi dan peran guru kurikulum dapat dijabarkan, dikembangkan, diperluas, sehingga dapat ditransformasikan kepada siswa dalam pembelajaran. Fungsi dan peran guru sangat penting dan strategis, karena melalui kepiawaian merekalah kurikulum punya makna dan arti. Artinya melalui guru nilai-nilai yang terkandung dalam kurikulum dapat disampaikan kepada siswa, dan aktualisasi serta transformasi nilai-nilai, sikap, pengetahuan dan keterampilan yang terkandung dalam kurikulum dilakukan oleh guru dalam implementasi kurikulum.( Syafrudin Nurdin, 2010: 103)
            Kurikulum atau program pembelajaran, baru punya arti bilamana telah diimplementasikan dan dikembangkan oleh guru dalam pembelajaran.kurikulum nyata atau aktual kurikulum merupakan implementasi dari official curriculum oleh guru dalam kelas. Beberapa ahli mengatakan betapapun bagusnya kurikulum ( official) tapi hasilnya sangat tergantung pada apa yang dilakukan oleh guru dan juga siswa dalam kelas. Dengan demikian guru memegang peranan penting, baik didalam penyusunan maupun pelaksanaan (implementasi) kurikulum. ( Syafrudin Nurdin, 2010: 103)
            Berdasarkan pendapat dan uraian diatas, jelas bahwa peranan guru sangat menentukan dalam pencapaian hasil belajar atau harapan yang didinginkan oleh kurikulum. Karena, sebagai implementator dan pengembang kurikulum guru berfungsi dan berperan
1.      Memperkaya kurikulum
2.      Meningkatkan relefansi kurikulum dengan kebutuhan bakat dan minat anak
3.      Menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan, tuntutan, dan perkembangan yang terjaadi di tengah-tengah masyarakat
4.      Menyesuaikan kurikulum dengan perkembangan ilmu pengetuahan , teknologi dan seni ( Syafrudin Nurdin, 2010: 105)
Sebagai pengembang kurikulum pertama sekali guru menjabarkan kurikulum ideal atau potensial (written curiculum) menjadi silabus. Kemudian silabus dikembangkan menjadi program pembelajaran setelah itu barulah rencana pembelajaran diaktualisasikan dikelas melalui kegiatan belajar mengajar ( pembelajaran). Sepintas, fungsi dan peranan guru tanpak tidak terlalu berat, tapi bila dikaji lebih dalam jelas bahwa fungsi dan peranannya cukup kompleks. Fungsi dan peran tersebut memerlukan keahlilan kompetensi kemauan dan komitmen keguruan yang tinggi. Disamping itu juga harus melalui pendidikan profesi guna untuk mendapatkan sertifikasi pendidik. ( Syafrudin Nurdin, 2010: 107)
Dalam peraturan pemerintah no 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan ( citra umbara, 2006: 186-188), telah ditetapkan bahwa kualifikasi guru untuk jenjang pendidikan dasar, menengah, dan pendidikan anak usia dini (paud) yaitu diploma 4 (D IV) atau sarjana (S1). Dengan demikian jelas bahwa profesi guru hanya dapat dilakukan oleh tenaga profesional yang telah memiliki kualifikasi dan kompetensi tertentu, yang dihasilkan oleh lembaga pendidikan tenaga kependidikan khusus, seperti fakultas ilmu kependidikan ( FIP). ( Syafrudin Nurdin, 2010: 107-108)



















BAB III
PENUTUP

1.      Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan dari uraian makalah dapat di simpulkan, kurikulum adalah sebagai seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Peranan dan fungsi kurikulum adalah
Peranan:
a.       Peranan koservatif
b.      Peranan kreatif
c.       Peranan kritis dan evaluatif
Fungsi :
a.       Fungsi penyesuaian
b.      Fungsi integrasi
c.       Fungsi deferensiasi
d.      Fungsi persiapan
e.       Fungsi pemilihan
f.       Fungsi diagnostik
Kemudian peran guru dalam mengembangkan kurikulum yaitu:
a.       Memperkaya kurikulum
b.      Meningkatkan relefansi kurikulum dengan kebutuhan bakat dan minat anak
c.       Menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan, tuntutan, dan perkembangan yang terjaadi di tengah-tengah masyarakat
d.      Menyesuaikan kurikulum dengan perkembangan ilmu pengetuahan , teknologi dan seni

 



 

DAFTAR PUSTAKA


Astawan.2010.pengertian,peranan dan fungsi kurikulum.http://astawan.files.wordpress.com. [Juni 2010] pdf.diakses 25 Februari 2016 pukul 20.14 WIB
Nurdin,syafruddin.2010.Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum.PT Ciputat Press:Jakarta
Hamalik,Oemar.2014.Kurikulum dan Pembelajaran.Bumi Aksara:Jakarta
Suyadi,dkk.2015.Implmentasi dan Inovasi Kurikulum Paud 2013.PT Remaja Rosdakarya:Bandung